Kami buruh. Kami adalah roda penggerak ekonomi negara. Dari keringat dan pikiran kamilah pabrik beroperasi, mesin berputar, dan keuntungan terus mengalir. Namun ironisnya, di negeri sendiri kami justru kerap diperlakukan seperti budak. Upah yang kami terima terlalu murah, sementara kebutuhan hidup semakin mahal. Upah kami tak lagi mampu menopang kehidupan yang layak. Kami bekerja dengan tenaga, waktu, dan pikiran, tetapi nasib kami terus dijadikan objek kepentingan. Lalu, kepada siapa lagi kami harus menyandarkan harapan? Namun satu hal harus ditegaskan: kami tidak akan pernah diam. Kami akan terus menuntut kesejahteraan.
Sejarah Lahirnya Federasi Pekerja Industri (FKI) di Tengah Gelombang Perlawanan Buruh Bekasi
Sejarah gerakan buruh Indonesia pasca tumbangnya rezim Orde Baru tidak hanya ditandai oleh lahirnya banyak serikat pekerja, tetapi juga oleh kehadiran bentuk baru pengorganisasian yang lahir langsung dari kebutuhan lapangan. Salah satu contoh penting dari proses ini adalah Federasi Pekerja Industri (FKI), yang pada awalnya bukanlah sebuah federasi buruh formal, melainkan Forum Komunikasi dan Informasi.
Forum Komunikasi dan Informasi (FKI) mula-mula dibentuk sebagai ruang bertukar kabar, konsolidasi, dan koordinasi antarpengurus serikat tingkat pabrik, khususnya di kawasan industri Bekasi. Forum ini lahir dari realitas objektif: buruh menghadapi persoalan yang sama—outsourcing, upah murah, PHK sepihak—namun sering kali terisolasi di pabrik masing-masing. FKI hadir sebagai simpul penghubung, mempercepat arus informasi dan membangun solidaritas lintas pabrik dan lintas kawasan.
.jpeg)
Posting Komentar